Sari dan…

Seorang teman yang pernah menyaksikan video klip tidak resmi dari lagu “Sari” meninggalkan testimoni yang cukup memukul hati saya. Katanya, video klip tidak resmi yang dirilis Channel Youtube Lukas Ingheneng itu sedih. Dia menangkap kesan “Sari” dibuat untuk orang-orang yang tak punya keberanian mengungkapkan perasaan ke seseorang yang disukai. Orang galau penakut ya begitu. Uring-uringan. Begitu katanya.

Memang lirik “Sari” cukup puitis. Aransemennya juga sukses memberi nuansa melankolis. Paling berbeda dari deretan lagu lain dalam album “Retrorika Metropolitan”. Dari pengakuan Bondan, lagu itu dibuat untuk mengejek temannya yang tak punya nyali menyampaikan perasaannya pada seseorang yang disukai. Hanya tiga meter jarak meja keduanya di kantin Realino Sanata Dharma. “Tapi teman saya itu bahkan tidak berani mendekatinya untuk sekadar apakah dia punya tisu atau tusuk gigi,” kata Bondan. Jadilah “Sari” sebagai lagu ejekkan untuk kawannya.

Korekayu benar-benar mengejek orang-orang penakut meski sentuhan akhir lagu membikin nuansa melankolis mengaburkan niat brengsek itu. Saya, barangkali, jadi orang kedua setelah kawan mereka yang diejek habis-habisan. Tapi “Sari” sekaligus panggilan untuk mengakui banyak dosa yang saya perbuat pada orang-orang terdahulu. Selain setumpuk memori yang kadang manis, kadang pahit bagi orang-orang yang pernah bermesraan, warisan lain yang saya tinggalkan hanya sederet pertanyaan panjang. Jumlahnya barangkali jauh lebih banyak ketimbang jawaban yang pernah saya berikan.

2016. Saya sering sekali menghabiskan malam di Warung Kopi (Warkop) Lidah Ibu daerah Demangan. Selain murah saya kenal baik dengan pengelolanya. Bisa hutang juga saat tanggal tua. Di sana saya selalu duduk di meja yang sama, sebelah kanan dari pintu masuk. Predikat pemegang rekor pengunjung pertama warkop yang saya pegang sejak awal tahun dipatahkan seorang perempuan yang sudah anteng di meja kekuasaan saya malam itu. Setiap malam dia ada di sana. Kadang sendiri kadang berdua. Mereka tidak banyak bicara hanya menggambar saja.

Terra Incognita, begitu yang saya rasakan waktu itu. Ada area luas yang tak teraba berisi segala kemungkinan. Saya tidak bisa tegas berada dalam sesuatu yang belum bisa saya gambarkan itu. Ada suka sekaligus kagum. Ragu. Hampir enam bulan saya hanya berjarak tiga meter dari mejanya. Kali pertama menegurnya hanya meminjam korek. Itu pun terpaksa saya lakukan karena lupa mengantungi korek yang waktu itu entah hilang ke mana atau diambil siapa. Bulan ke-7 lalu ke-8 dia tidak ada lagi di sana.

“…Aku memetik setangkai lagu yang mekar berpijar di kabutmu…/Sari, Dia pun tak ingin kau pergi/Meninggalkanmu di tepi jalan yang tak bertepi tertatih”

Kebetulan kasir sedang memutar lagu Korekayu. Pelan-pelan dua larik “Sari” itu menyiksa saya di tengah banyaknya mereka yang membincang apa-apa saja di Warkop Lidah Ibu. Tak lagi ada Terra Incognito lantaran ia lenyap tanpa saya tahu siapa nama dan pada siapa ia dimiliki. Di larik itu ada suasana kemustahilan. Tentu saja di sini tidak ada bunga mekar yang berpijar apalagi bunga yang punya filamen penghantar panas lalu menghasilkan cahaya. Tapi mustahil adalah ketidakpastian sekaligus keniscayaan. Nihil datang setelah keberanian.

Berani ke mejanya saja saya tak punya apalagi menananyakan namanya. Alih-alih mengajaknya berkencan. Meminjam istilah teman saya, Pito, keberanian saya hanya imaji kenjantanan. Ketidakmungkinan yang saya buat sendiri itu ditangkap Korekayu lewat dua larik yang benar-benar memukul kepala dan jatung saya.

Di penghujung tahun 2018 saya menemukan perempuan itu di warung kopi lain. Masih dengan aktivitas yang sama seperti di Lidah Ibu. Wajahnya masih setenang tahun lalu. Momen itu saya habiskan dengan memandangi wajahnya yang sudah lama tidak saya lihat. Di tengah puncak kebahagiaan itu saya juga menemukan inferoritas yang kian membesar ketika kami beradu mata meski hanya sepersekian detik.

Saya kembali ingat larik “Sari”: “…melantunkan nada bisu/memerah dan malu..” di momen itu. Namun sepulang dari sana saya menyadari bahwa ada baiknya saya hanya mewariskan ingatan sederhana lalu berasumsi tak usah menarik dirinya dalam riwayat berkelok ini. Toh cermin tak pernah memberi tanda yang terlalu ribet dan jelimet.

Malam berikutnya saya memberanikan diri ke mejanya, mengenalkan diri saya sepantasnya lalu memberinya buku “Bebek yang Mati di Pinggir Kali” bersama album “Retrorika Metropolitan”. Dengan semburat aneh dia menerimanya lalu menaruhnya di samping gambar yang tengah dibuatnya. Saya pergi. Memunggunginya lalu merapalkan doa tanpa kata. Semoga, seperti larik berikutnya yang sangat kurangajar “…mati dan layu…”, Tuhan mematikan keinginan laknat untuk memilikinya.

 

//

 

Terima kasih mas Aristides Wasesa, turut bersedih, semoga “keinginan laknat”-mu tersampaikan dengan baik ke mbak-mbak yang hobi gambar itu. Ada 1 lagu lagi yang cocok untukmu, mas, “Kecewa”, oldies dibalut punk perempatan, semoga rilis dekat-dekat ini… xixixi