18 Th Swaragama: POP UP MARKET!

Swaragama POP UP MARKET! digelar hari Sabtu (17/3/2018), menginjak usia ke-18 tahun Radio Swaragama sebagai wujud rasa syukur manajemen PT. Radio Swara Gajah Mada menggelar acara syukuran tersebut di halaman parkir Swaragama, Bulaksumur, Yogyakarta.

Semoga menjadi radio yang mengutamakan kedekatan dengan komunitas lokal, dapat menjangkau generasi milenial (1990-2000) dan generasu Z (2000-saat ini) melalui berbagai multiplatform. Hidup Radio Yogyakarta! Sukses Jaya selalu !

 

 

Stage Story of Korekayu 2017

Stage Story of Korekayu 2017

[klik pic for view]

Beberapa Dokumentasi dari panggung ke panggung Korekayu sepanjang tahun 2017, Semua dokumentasi tersimpan dengan baik, salah satunya pada website ini, beberapa dokumentasi yang lain bisa di lihat di akun instagram @korekayu atau Youtube. Semoga lembar ini menjadi pengobat rindu.

Awal tahun baru 2017, setelah ritual libur natal dan tahun baru, Korekayu bermain bersama lagi, kali ini bersama band-band indie Jogja bertajuk “Indie Night” di salah satu Club di jalan Magelang, sebagai semangat baru, pemanasan di tahun yang baru, sempat juga mengisi di acara Pameran Tugas Akhir Mahasiswa-Mahasiswi Institut Seni (ISI) Yogyakarta. Pada bulan ke-2, Korekayu merilis mini album “Retrorika Metropolitan” secara Digital (Spotify, Joox, iTunes, Deezer, dll), sebelumnya mini album ini di rilis pada bulan yang sama tahun 2016 dengan paket bundling CD pack kayu dan merchandise, simak lengkapnya disini. Tujuan dari dirilisnya album digital adalah agar mini album “Retrorika Metropolitan” dapat dinikmati oleh khalayak luas, sehingga karya Korekayu dapat dinikmati dimana saja tanpa batas apapun19 FebruariKorekayu dipercaya (lagi) untuk memeriahkan sebuah hajatan pernikahan, selama ini sudah 3 acara pernikahan yang turut mengundang Korekayu untuk berbagi kebahagian. 24 Februari, Korekayu bermain bersama keluarga Sexen USD dalam acara rutin T.G.I.F, dibawah tangga kantin Realino, senang sekali bermain di gigs ini, serasa pulang kerumah.

Bulan Maret, diawali dengan recording live video di @RockstarStudio , Proyek Korekayu X Rockstar ini merekam live musik dan video lagu “Dibawah Tangga”, prosesnya sangat singkat, hasil pun memuaskan, simak videonya disini. Pada bulan yang sama, Korekayu sempat mengikuti audisi Radio Show TV One, hanya berhasil masuk 10 besar Yogyakarta saja. Pada bulan April, Mang Ito “Sungai” merangkul Korekayu untuk bermain di acara kolektifnya, Mengalir Senja #3 bersama Superpop, Terasiring, Illona, Answersheet dan SeekSixSick, 29 April Guest Star Dies Natalis Fakultas Ekonomi Sanata Dharma dan 30 April Guest Star Bulan Bahasa di Kampus Realino Sanata Dharma, bermain 3 hari berturut-turut yang menyebabkan beberapa dari kami tumbang. Bulan Mei, Korekayu bermain dengan kakak-kakak VOC dan Sungai, dalam acara sambut Asian Youth Day 2017 di Gereja Maguwoharjo, Sleman. Berlanjut pada pertengahan bulan Mei, mengisi acara Awarding Night di Kampus UIN Yogyakarta, sekaligus gigs penutup sebelum istirahat sejenak sebulan penuh.

Selama bulan puasa, Korekayu libur dari hingar bingar musik Jogja (sepi job) fokus untuk produksi single baru. Produksi single baru dilakukan di Interest Studio, selama 1 minggu sebelum produksi dimulai Korekayu  mengaransemen dan membuat lirik lagu di Studio, adalah mas Desta (@musikjogja) orang di balik layar yang mengusulkan serta memberi gambaran konsep single tersebut (FYI, Korekayu sempat ngobrol asik bersama mas desta @musikjogja, simak videonya disini). Proses produksi single Jemari Berpena terhitung cepat, setelah proses rekaman selesai dilanjutkan produksi video clipnya. Mixing dan mastering lagu “Jemari Berpena” dipercayakan kepada Billydinata (Interest Studio) sedang video dipercayakan kepada Nying-nying dan tim (lihat video Jemari Berpena). Sempat take video pada proyek Out Session EhlooTV, Korekayu membawakan tembang “Posesif” milik Naif dan “This Boy” milik The Beatles (lihat video disini dan disini). Giliran fokus pada launching single dan video klip Jemari Berpena, bertajuk mini showcase “Jemari Berpena” ini kami kerjakan sendiri, dibantu juga teman-teman Sexen dan Rockstar Studio. PR-nya, jauh-jauh hari Korekayu harus membuat gimmick tentang single baru sebelum dirilis. Munculah ide tantangan menulis surat tentang masa lalu yang ditujukan kepada teman-teman sekitar, memanfaatkan media sosial, yang mana semua surat yang masuk di-upload di akun instagram @korekayu.

Juli, Ada kabar baik dan buruk, tepat 2 minggu sebelum showcase berlangsung, Bondan Jiwandana (Gitar-Vokal) mengalami kecelakan saat perjalanan menuju Magelang, kaki kirinya patah, sehingga mengharuskan Bondan untuk berisitirahat beberapa hari dan menggunakan tongkat “kruk” untuk membantunya berjalan, hingga showcase di gelar. Kabar baiknya, Beringin Soekarno Sanata Dharma saksi biksu sekaligus tempat bersejarah bagi Korekayu, untuk pertama kalinya menggelar showcase tunggal peluncuran single dan klip terbaru bertajuk mini Showcase Jemari Berpena dengan sukses, dan pertama kalinya juga Korekayu bermain secara lengkap pasca Enan “Bleki” (keyboard) menjalani rehabilitas di Jakarta sejak  pertengahan 2016, simak lengkapnya disini. Setelah sukses menggelar showcase, Korekayu gencar melakukan promo single dan video klip , menjajah media online, media cetak, radio maupun promo di setiap gigs. 20 Juli, Halal Bihalal bersama Komunitas Beatles Jogja, kali ini tidak membawakan lagu dari Korekayu, 4 lagu hits dari The Beatles. Kemudian pada tanggal 25 kami bermain di Road to Soundrenaline 2017, 28 Juli Liquid Bar & Kitchen dan 29 Juli Road to Soundrenaline Day 3, 3 gigs ini kesempatan baik untuk mempromosikan single baru yang masih hangat.

Awal Agustus, Pertama kalinya Korekayu bermain di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY 2017) dan rangkaian acara Malioboro Night Festival, pertengahan bulan kembali bermain di gigs brand sebuah rokok, bersama Bottle Smoker, Last Elise, Sungai, Jason Ranti dan Mondo Gascaro, lanjut “Island in The Sun” rooftop Galeria Mall, Yogyakarta. Gigs Agustus berakhir di acara launching Music Corner LOOP Station.

Sabtu, dimana anak muda seumuran kami  mungkin sudah merencanakan dengan kekasih hati untuk berkencan sekedar jalan-jalan keliling kota atau menikmati film layar tancap, tidak dengan Korekayu, di bulan September berkencan gigs, Land of Leisures Market, yang diselenggarakan 3 hari di rooftop Ambarrukmo Plaza Yogyakarta, Korekayu berkesempatan bermain pada hari Ke-2 membuka Hi-Vi dan sempat berkolaborasi dengan Olski, sebelumnya konsep kolaborasi ini sudah ada pada mini showcase Jemari Berpena (lihat video disini) dimana Olski turut memeriahkan showcase serta collab bersama Korekayu. Kabar bahagia datang dari Radio Geronimo FM, dimana single Jemari Berpena menjadi jawara chart pada program musik indie, yang sebelumnya pada bulan Agustus, single tersebut hanya bertengger pada posisi chart 2 atau 3 setiap minggunya, Jemari Berpena menjadi jawara chart juga dikabarkan oleh radio Cassanova Bali, sebuah pencapaian luar biasa bagi Korekayu. Berlanjut sabtu minggu kedua, Korekayu menuju utara kota Yogyakarta, gigs kecil-kecilan bersama Sexen USD di Kaliurang, ditutup dengan “pesta air” bersama teman-teman anggota baru Sexen hingga “Sexen Purna Tugas”. Sabtu ke-3, Korekayu bertamasya ke selatan Yogyakarta, kali ini memeriahkan pensi SMA 2 Wonosari bersama Dialog Dini Hari, disambut hangat dan positif di alun-alun kota Wonosari, senang, semoga lain kali  bisa bermain lagi disana. Di akhir bulan, kabar kurang baik kembali datang, kali ini Alvin mengalami kecelakaan, kakinya sedikit cedera dan sempat terbesit untuk menggunakan additional player drum untuk merampungkan 2 gigs terakhir bulan September, tapi beruntungnya 2 gigs terkahir, “Malam Ekspresi PBSI USD” dan “Art of Technology-TI USD” bersama Senar Senja terlewati tanpa pemain pengganti.

Oktober dan November, Gigs bersama teman-teman komunitas pecinta The Beatles Jogja, 14 Oktober tribute to The Beatles “Tone Of Norwegian Wood” dan 4 November syukuran ulang tahun ke-15 komunitas The Beatles, di gelar di halaman Kantor Harian Keadulatan Rakyat. 10 November, membuka Endah n Rhesa bersama Orkes Humor Bardi dalam pensi Goal Fest mahasiswa Bimbingan Konseling Sanata Dharma, 18 November, Charity Concert Magic – O, Radio Masdha FM bersama Evalin, Chord 7, Olski, Jono Terbakar dan Illona ATSP.

Bulan Desember, Korekayu kembali melempar karya ke platform music digital, giliran single “Jemari Berpena” sudah bisa dinikmati di iTunes, Spotify, Joox dan aplikasi musik digital lainnya, Korekayu ingin semua portal online Youtube, Souncloud, aplikasi musik ataupun media sosial menjadi wadah berkarya yang baik. Gigs, Pada tanggal 9 kemarin Korekayu bermain di acara Lucky Tribe Music Festival bersama Skandal, Summerchild, Sungai dan di tutup band rock nasional, Jamrud. Apa jadinya, Korekayu ber-genre pop oldies bermain tepat sebelum Jamrud? Band rock nasional dengan basis massa yang tidak sedikit dan loyal. Sempat panik, baru kali ini membuka band dengan aliran yang berbeda. Menyusun 12 lagu upbeat, dengan harapan penonton tidak bosan atau tidak ada lemparan botol. Bertambah panik ketika data soundcheck hilang sebelum acara dimulai dan waktu prepare dipanggung hanya 1 menit. Show must go on, akhirnya 7 lagu kami mainkan dengan baik, jammers ternyata baik hati, tetap sabar menunggu, meski hujan mengguyur stadion Kridosono.

28 Desembar, menurut jadwal Korekayu bermain di Merapi Park Fest, acara yang “katanya” akan di gelar setiap tahun dalam waktu 30 hari, dengan line up band-band indie Jogja, menarik sekali! Tapi sayang, kabar kurang baik tentang acara ini, Korekayu dan line up tersisa pada hari ke-3 hingga hari ke-30 batal tampil di Merapi Park Fest dikarenakan beberapa hal teknis di lapangan sehingga Merapi Park Fest harus dihentikan oleh pihak penyelenggara. 29 Desember, berbagi kebahagiaan pernikahan Westri dan Christ, di Rumah Budaya Tembi, Bantul, Yogyakarta. 30 Desember, jamming bersama Beatles Mania soft launching Warung Salira, Condong catur.

Mungkin sekian dulu saja cerita perjalanan serta pencapaian dan pengalaman baru Korekayu selama tahun 2017, semoga ditahun yang baru ini apa yang menjadi cita-cita Korekayu (Full Album) bisa terwujud, terima kasih teman-teman yang mengapresiasi pun yang terlibat proses Korekayu di tahun 2017, sampai bertemu lagi di gigs terdekat atau kesempatan yang lain. Selamat tahun baru 2018! Sukses untuk kalian semua. See you :*

 

Peluk nan erat,

KOREKAYU

 

Photograph: Ammir, Gabra Mikael, Bayu Ata, Cosmas Dipta, Tata Tiong & Korekayu

Out Session “This Boy”

Out Session “This Boy”

Out Session kali ini bersama tim Ehloo TV di Red Corner Cafe Jl. Lowanu, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Korekayu membawakan tembang milik yang mulia “The Beatles” yang berjudul “This Boy” selamat menyaksikan, jangan lupa subscribe & share.

Record Sound : Interest Record  https://instagram.com/intereststudio

Website: http://ehloo.com/ Like us on Facebook: https://www.facebook.com/ehloocom Follow us on Twitter: https://www.twitter.com/ehloocom Follow us on Instagram: https://instagram.com/ehloocom

Out Session “Posesif”

Out Session “Posesif”

Out Session kali ini bersama tim Ehloo TV di Red Corner Cafe Jl. Lowanu, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Korekayu membawakan tembang milik Naif yang berjudul “Posesif” selamat menyaksikan, jangan lupa share.

 

Record Sound : Interest Record  https://instagram.com/intereststudio

Website: http://ehloo.com/ Like us on Facebook: https://www.facebook.com/ehloocom Follow us on Twitter: https://www.twitter.com/ehloocom Follow us on Instagram: https://instagram.com/ehloocom

Realese: Jemari Berpena

Realese: Jemari Berpena

BAND Pop Oldies, Korekayu, baru saja merilis lagu baru berjudul “Jemari Berpena” dalam sebuah pertunjukkan mini di Beringin Kampus Sanata Dharma beberapa waktu lalu. Lagu yang berkisah tentang era surat menyurat ini pun langsung mendapat banyak pujian dari sejumlah musisi senior di Yogyakarta. Aransemen unik berlirik kuat yang mudah diterima kuping pendengar musik di Indonesia jadi alasan banyaknya pujian yang mereka terima.

Garry Mailangkay, gitaris band senior Yogya LaQuena contohnya. Ia mengatakan lagu dari Bondan (vokal, gitar), Blacky (kibor), Alfons (guitalele, vokal), Bagas (Bass), Alvin (Drum), dan Lukas (gitar) ini akan gampang diterima masyarakat. “Aransemennya oke, liriknya bagus. Saya pribadi berharap mereka ini bisa berkarya terus sampai 15 tahun ke depan,” katanya.

Melengkapi Garry, Abay, gitaris Jamphe Johnson juga kagum lantaran Korekayu mampu mengolah notasi Pop tahun 60-an menjadi sangat Indonesia. Tidak mudah menurutnya bisa mengolah hal demikian. “Mereka pakemnya pakai notasi The Beatles dan itu sulit sekali di-Indonesiakan dengan dimensi suara dan lirik Indonesia. Tapi Korekayu sangat sukses melakukan itu di lagu barunya. Enak sekali didengar,” beber Abay.

Lagu yang videoklip-nya sudah bisa dinikmati di laman Youtube Korekayu ini juga mampu membangkitkan memori era surat menyurat masih populer. Lirik yang sengaja dibuat laiknya bahasa surat dan videklip nostalgia yang diperankan Raden Soeprapto, kakek Lukas, jadi satu paket menyenangkan dalam lagu baru ini. “Paketnya komplit. Enak didengar dan bisa membangkitkan memori mereka yang pernah mengalami masa surat menyurat,” sambung Efan, gitaris Illona ATSP, Sungai, dan Boardingroom ini. (Des)

Sumber: krjogja 17 juli 2017

Showcase “syukuran”  Jemari Berpena

Showcase “syukuran” Jemari Berpena

Sebuah meja berukuran sedang jadi pemandangan pertama penonton mini konser “Jemari Berpena” Korekayu di Beringin Kantin Sanata Dharma Jogja, Sabtu (15/8) malam. Di atas meja yang dipasang tak jauh dari gerbang masuk dipajang puluhan surat bertulis tangan yang ditulis Raden Soeprapto, kakek additional gitar Korekayu, Lukas puluhan tahun lalu. Ada juga koleksi perangko luar negeri dan dua buah mesin ketik tempo doloe.

 

Di samping meja Korekayu juga menaruh sepeda onthel dan satu buah lampu jalan tempo doloe. Simbolis sepeda itu yang digunakan Raden Soeprapto mengirimkan surat yang ditulisnya untuk teman-temannya di luar negeri ke kantor pos. Surat-surat yang ditulis dalam rentang waktu 1955-1968 itu menarik perhatian mereka yang datang. Hampir tiap penikmat musik malam itu berfoto bersama meja, mesin ketik, dan sepeda onthe Raden Soeprapto.

 

Instalasi itu memberi isyarat tentang judul lagu baru beserta video klip yang malam kemarin turut diluncurkan. Ada yang menebak judul lagu baru itu “Surat Cinta”, “Kakek”. “Kisah Kakek”, dan lain-lain. Padahal di meja yang penuh surat itu Korekayu sudah memberitahu jawaban tentang lagu baru. Bahkan dua pekan sebelum mini konser dimulai, mereka sudah menyelipkan judul lagu baru yang bikin banyak orang penasaran.

 

Ada sensasi ketika melihat tata panggung mini konser yang memang tepat di bawah Pohon Beringin yang cukup tua di area kampus II Sanata Dharma itu. Dua set alat disusun dengan pencahayaan lembut mampu menyimpan kesan angker yang selalu hadir di Pohon Beringin. Kesan angker juga kian lenyap ketika Olski band pop menggemaskan Jogja membuka mini konser. Meski tanpa gitaris Dicky Mahardika yang tengah menunaikan ibadah Folk di Malang, Dea (vokal) dan Sobeh (pianika) tampil maksimal.

 

Bersama Faiz Laditya, bassist additional Olski yang kemarin malam didapuk bermain gitar, Hanif penggebuk drum band Jazz Boarding Room, dan pembetot bass Gilang (By The Way, Remember), mereka sukses mengantar penonton bersenang-senang di halaman beringin. Mereka juga berduet dengan Korekayu membawakan tembang hits “Datang Bulan” yang lalu menyerahkan panggung pada Korekayu.

IMG_6576

 

Ratusan penonton mini konser langsung merapat ke depan set, begitu Bondan (vokal, gitar), Alfons (guitalele, vokal), Alvin (Drum), Bagas (Bass), Yustinus Blacky (kibor), Lukas (add. gitar) dan Elgar (add. kibor) mulai berdiri di set masing-masing. Seperti biasanya, teriakkan penonton perempuan selalu terdengar ketika Alvin duduk di belakang drum. Musisi ganteng ini memang kerap membuat penonton perempuan, bahkan laki-laki langsung lumer. Apalagi penampilannya malam itu sangat parlente.

 

Korekayu tampil full tim. Mereka tidak mau meninggalkan para personel yang membantu perjalanan mereka selama ini. Blacky, kibordis yang terpaksa meninggalkan band sementara lantaran kesibukan berbagi suara dengan Elgar, additional Korekayu selama ini. Lalu Bondan malam itu harus rela tak bisa pecicilan seperti biasanya karena kakinya di-gips setelah motornya mencium kerasnya body mobil, sepekan sebelum mini konser.

 

Mereka memanjakan telinga penonton dengan “Jingga Senja dan Lalu Lalang Manusia” sebagai nomor pembuka dilanjutkan “Seorang Anak Lelaki” sebelum mereka menyapa penonton yang datang dengan candaan segar khas Jogja yang selalu sukses bikin ngakak.

 

“Halo teman-teman. Ketemu lagi kita di Sanata Dharma. Kampus kami, swasta yang mahal sekarang. Gunungkidul mana Gunungkidul. Yaah Gunungkidul hadir. Jadi gini, saya terpaksa duduk karena kemarin habis cium Panther tahun 97. Lumayan juga cium Panther tahun 97, mobilnya masih keras daripada Avanza empuk,” kata Bondan lalu disambut pisuhan mesra penonton yang hadir.

IMG_6306

 

Sebelum membawakan “Sari”. mereka lebih dulu menceritakan tentang kisah di balik lagu itu. “Sari” sebenarnya lagu sindiran untuk teman mereka yang berinisal Y–meski akhirnya disebut juga namanya: Yoga– yang tidak berani mengungkapkan perasaan ke teman mereka yang bernama Sari saat masa kuliah dulu. Kisah ini lagi-lagi direspon pisuhan yang membuat malam makin menyenangkan. Di Jogja seperti yang kita tahu, pisuhan adalah tanda kemesraan. Jangan salah paham.

 

Usai Sari, mereka membayar rasa penasaran penonton yang sejak awal menebak-nebak apa judul lagu baru mereka. Alfon mengarahkan pandangan mata penonton ke sebuah layar ukuran sedang–yang mereka bilang layar tancap– ke sebelah barat panggung. Korekayu memamerkan video klip sekaligus lagu terbaru yang mereka beri judul “Jemari Berpena”. Bisik-bisik penonton pun membesar.

 

“Oalaaahhh…. Jemari Berpena tho. Kirain Jemari Berpena itu tema konsernya. A*u tenan, apik. Ketipu aku, hahahah…” komentar seorang penonton.

jember2

Raden Soeprapto sendiri jadi sosok dalam video klip itu. Ia membuka kotak berisi surat dari para sahabat penanya di luar negeri yang dipamerkan di atas meja usai pagar masuk. Ada juga surat-surat cinta dari istrinya. Kakek Lukas natural dalam video klip. Sesekali matanya memerah, barangkali ingat kisah-kisah sedih atau yang tengah dipendamnya dalam surat yang tulisannya menggunakan bahasa Esperanto.

 

Bahasa Esperanto sendiri dianggap sebagai bahasa artifisial yang digunakan dalam surat menyurat penduduk dunia sejak 100 tahun lalu. Dalam perkembangannya, bahasa ini pernah dituduh sebagai bahasa kaum komunis lantaran tenar di daerah Eropa Timur dan Baltik.

 

Korekayu langsung memainkan nomor baru itu usai pemutaran video klip. Berdurasi 3 menit, lagu ini berpotensi meledak. Riff gitar nyaman yang gampang digumamkan jadi pembuka yang cukup tepat. Pemilihan nada yang familiar dan lirik laiknya bahasa surat tulis tempo doloe membuat lagu ini tidak hanya kuat namun bakal langsung nyangkut di telinga pendengar. Sehingga tak heran ketika konser berakhir, para penonton ada yang menggumam “Jemari Berpena” berulang kali.

 

“Mini konsernya asyik banget. Lagu Korekayu ini asik, gampang dicerna, dan berlirik kuat. Untuk Korekayu, tetap berkarya sampai 15 tahun ke depan ya. Asyik,” puji gitaris Laquena sekaligus owner Gonsells Studio, Garrry Mailangkay yang turut menyaksikan mini konser itu.

 

Mini konser Korekayu kali ini berkonsep rapi dan mampu menggali memori para penonton terhadap nasihat juga pelukan hangat kakek dan nenek mereka. Pun mereka yang pernah mengalami masa indah menulis atau menerima surat dari orang terkasih. Lagu baru mereka ini bersama lima lagu dalam mini album “Retrorika Metropolitan” juga jadi penanda bahwa band yang dibesarkan di bawah tangga kantin Sanata Dharma ini adalah calon band pop pencetak hits. Tidak heran bila suatu hari nanti, Korekayu menjadi jawaban dari pertanyaan setelah Sheila On7, siapa lagi yang bisa menghasilkan lagu mengabadi yang bisa dinikmati tiap generasi. (DESTA WASESA)

IMG_6649