Racun

Pertama kali tahu Korekayu, aku dengar dari youtube. Youtube-ku autoplay, jadi  ganti lagu sesuka hatinya aja, dari pop, jazz, lagu anak, yang jelas dia nggak pernah ngeplay lagu rock, tahu kali ya kalo yang punya laptop nggak tahu indahnya nada-nada lagu rock hihi. Secara nggak sengaja si youtube berhenti di lagu “Korekayu – Jingga Senja” waktu dengar lagunya Korekayu, asik banget buat nemenin ngedit foto ratusan yang kadang ngebosenin. Karena yang aku dengerin pertama itu uploadan dari youtube nggak tahu siapa yang upload full mini album korekayu, yang jelas bukan official akun youtube Korekayu. Jadi, aku belom tahu bandnya kayak apa dan belom tertarik buat nyari tahu waktu itu,heheu, maapkeun. Lama-lama tiap kerja jadi dengerin itu terus sampe hafal semua lirik lagu di mini albumnya (ini aku juga belum tahu visual bandnya, bahkan belum follow instagramnya, hahaha). Kebetulan aku nggak kerja kantoran seperti orang kebanyakan, jadi kalau mau kerja harus mondar-mandir cari wifi ke kedai kopi. Waktu kerja di salah satu kedai kopi di Jogja Selatan aku lupa bawa headset, yasudalah dengan nggak punya dosa aku nge-play lagu Korekayu pakai speaker laptop, tapi ini nggak sekenceng sound kawinan dikampungku kok, hahaha. Ternyata waktu temenku (sebut saja kucing) nimbrung di mejaku dia tau Korekayu, dan kebetulan dia gabung di Sexen (kalau nggak salah ini UKM musik di Sanata Dharma) juga! Sempit banget memang Jogja ini. Darisitulah mulai cari tahu tentang Korekayu. Waktu nemu sosmed-nya, ternyata packaging (mini album) nya menarik sekali, hahaha. Dengan tampilan yang bikin inget sama outfit ayahku waktu muda, keceriaan yang mereka bawa ditiap panggung dan mas-mas personil idola kawula muda. Aku jadi punya tambahan wishlist di bukuku buat nonton live Korekayu! hihihi. Di acara “Berkumpul Berbahagia” yang bertempat di Provoke! (aku sudah nyoba inget-inget tanggalnya tapi otakku nggak sanggup ) tercapailah wishlistku itu haha, karena sibuk sing a long aku nggak sempat mengabadikan lewat foto, soalnya sayang banget kalau ketinggalan sebait doang :( agak lebay sih ini haha. Akhirnya tiap Korekayu perform aku nyoba dateng, ngajakin siapapun yang lagi selo tanggal itu buat nemenin nonton, seselo itu yaaaa hahaha. Tapi semua orang yang aku ajak nonton pasti kecantol sama Korekayu kok haha. Lumayan kabur dari kerjaan bentar. Nonton, sing a long, motret, update ig story biar kayak orang-orang yang lain. Malemnya ng-edit terus upload di IG nge-tag personilnya, standar tukang poto laahh… dan menurutku Korekayu salah satu band yang well banget sama penontonnya, di sosmed ataupun ketemu langsung, agak peres ya ini haha. Oiya, aku sempat nyari-nyari mini album Korekayu waktu itu, tapi kesisa 5 kalau nggak salah buat lelang disumbangin ke Lombok, sudah jelas ini harganya bakal melambung dooongg. Makanya waktu itu nggak berani ngikut karena isi dompet sedang tidak bersahabat dengan keinginan hati huhu. Sampai disalah satu gigs, dikasih co-card yang super cute buat modal akses motret mereka. AMAT SANGAT SENENG!!! Tapi kegalauan muncul ditengah lagu, godaan buat sing a long atau motret orang sing a long  ah sesungguhnya itu bukan pilihan, makanya aku melakukan keduanya secara bersamaan, hahaha. Dipersingkat ajadeh, soalnya waktu dibaca ulang terlalu personal yak ceritanya, hehe. Ternyata sekarang sudah sebulan lebih nggak nonton Korekayu, sudah ngelewatin 3 panggung mereka, ku rinduuuuuuu… dipercepat dooonggg manggungnya lagiii, Januariku selo nih hahaha. Semoga albumnya lancar dan aku kebagian albumnya! Hehe.

 

//

 

Terima kasih Fay Syahaniya, rela menjadi “racun” untuk teman-temanmu, termia kasih foto-fotomu, semoga nggak pernah kapok hadir di Gigs Korekayu, ketemu tanggal 29 Januari ya…

Cermin Tak Pernah Memberi Tanda (Sari)

Sari dan…

Seorang teman yang pernah menyaksikan video klip tidak resmi dari lagu “Sari” meninggalkan testimoni yang cukup memukul hati saya. Katanya, video klip tidak resmi yang dirilis Channel Youtube Lukas Ingheneng itu sedih. Dia menangkap kesan “Sari” dibuat untuk orang-orang yang tak punya keberanian mengungkapkan perasaan ke seseorang yang disukai. Orang galau penakut ya begitu. Uring-uringan. Begitu katanya.

Memang lirik “Sari” cukup puitis. Aransemennya juga sukses memberi nuansa melankolis. Paling berbeda dari deretan lagu lain dalam album “Retrorika Metropolitan”. Dari pengakuan Bondan, lagu itu dibuat untuk mengejek temannya yang tak punya nyali menyampaikan perasaannya pada seseorang yang disukai. Hanya tiga meter jarak meja keduanya di kantin Realino Sanata Dharma. “Tapi teman saya itu bahkan tidak berani mendekatinya untuk sekadar apakah dia punya tisu atau tusuk gigi,” kata Bondan. Jadilah “Sari” sebagai lagu ejekkan untuk kawannya.

Korekayu benar-benar mengejek orang-orang penakut meski sentuhan akhir lagu membikin nuansa melankolis mengaburkan niat brengsek itu. Saya, barangkali, jadi orang kedua setelah kawan mereka yang diejek habis-habisan. Tapi “Sari” sekaligus panggilan untuk mengakui banyak dosa yang saya perbuat pada orang-orang terdahulu. Selain setumpuk memori yang kadang manis, kadang pahit bagi orang-orang yang pernah bermesraan, warisan lain yang saya tinggalkan hanya sederet pertanyaan panjang. Jumlahnya barangkali jauh lebih banyak ketimbang jawaban yang pernah saya berikan.

2016. Saya sering sekali menghabiskan malam di Warung Kopi (Warkop) Lidah Ibu daerah Demangan. Selain murah saya kenal baik dengan pengelolanya. Bisa hutang juga saat tanggal tua. Di sana saya selalu duduk di meja yang sama, sebelah kanan dari pintu masuk. Predikat pemegang rekor pengunjung pertama warkop yang saya pegang sejak awal tahun dipatahkan seorang perempuan yang sudah anteng di meja kekuasaan saya malam itu. Setiap malam dia ada di sana. Kadang sendiri kadang berdua. Mereka tidak banyak bicara hanya menggambar saja.

Terra Incognita, begitu yang saya rasakan waktu itu. Ada area luas yang tak teraba berisi segala kemungkinan. Saya tidak bisa tegas berada dalam sesuatu yang belum bisa saya gambarkan itu. Ada suka sekaligus kagum. Ragu. Hampir enam bulan saya hanya berjarak tiga meter dari mejanya. Kali pertama menegurnya hanya meminjam korek. Itu pun terpaksa saya lakukan karena lupa mengantungi korek yang waktu itu entah hilang ke mana atau diambil siapa. Bulan ke-7 lalu ke-8 dia tidak ada lagi di sana.

“…Aku memetik setangkai lagu yang mekar berpijar di kabutmu…/Sari, Dia pun tak ingin kau pergi/Meninggalkanmu di tepi jalan yang tak bertepi tertatih”

Kebetulan kasir sedang memutar lagu Korekayu. Pelan-pelan dua larik “Sari” itu menyiksa saya di tengah banyaknya mereka yang membincang apa-apa saja di Warkop Lidah Ibu. Tak lagi ada Terra Incognito lantaran ia lenyap tanpa saya tahu siapa nama dan pada siapa ia dimiliki. Di larik itu ada suasana kemustahilan. Tentu saja di sini tidak ada bunga mekar yang berpijar apalagi bunga yang punya filamen penghantar panas lalu menghasilkan cahaya. Tapi mustahil adalah ketidakpastian sekaligus keniscayaan. Nihil datang setelah keberanian.

Berani ke mejanya saja saya tak punya apalagi menananyakan namanya. Alih-alih mengajaknya berkencan. Meminjam istilah teman saya, Pito, keberanian saya hanya imaji kenjantanan. Ketidakmungkinan yang saya buat sendiri itu ditangkap Korekayu lewat dua larik yang benar-benar memukul kepala dan jatung saya.

Di penghujung tahun 2018 saya menemukan perempuan itu di warung kopi lain. Masih dengan aktivitas yang sama seperti di Lidah Ibu. Wajahnya masih setenang tahun lalu. Momen itu saya habiskan dengan memandangi wajahnya yang sudah lama tidak saya lihat. Di tengah puncak kebahagiaan itu saya juga menemukan inferoritas yang kian membesar ketika kami beradu mata meski hanya sepersekian detik.

Saya kembali ingat larik “Sari”: “…melantunkan nada bisu/memerah dan malu..” di momen itu. Namun sepulang dari sana saya menyadari bahwa ada baiknya saya hanya mewariskan ingatan sederhana lalu berasumsi tak usah menarik dirinya dalam riwayat berkelok ini. Toh cermin tak pernah memberi tanda yang terlalu ribet dan jelimet.

Malam berikutnya saya memberanikan diri ke mejanya, mengenalkan diri saya sepantasnya lalu memberinya buku “Bebek yang Mati di Pinggir Kali” bersama album “Retrorika Metropolitan”. Dengan semburat aneh dia menerimanya lalu menaruhnya di samping gambar yang tengah dibuatnya. Saya pergi. Memunggunginya lalu merapalkan doa tanpa kata. Semoga, seperti larik berikutnya yang sangat kurangajar “…mati dan layu…”, Tuhan mematikan keinginan laknat untuk memilikinya.

 

//

 

Terima kasih mas Aristides Wasesa, turut bersedih, semoga “keinginan laknat”-mu tersampaikan dengan baik ke mbak-mbak yang hobi gambar itu. Ada 1 lagu lagi yang cocok untukmu, mas, “Kecewa”, oldies dibalut punk perempatan, semoga rilis dekat-dekat ini… xixixi

Memorable

Aku punya satu cerita yg memorable!

Waktu itu aku gambar wajah personil Korekayu (Lukas belum bergabung). Aku pajang di tembok kamar kos, teman-temanku yang tau kalau aku suka Korekayu bilang, “ngapain dipajang doang? kasih aja langsung ke mereka, Din”, kataku, “hm, boljug sekali idenya!” Hahaha…

Ketika Korekayu manggung di kampus, aku berencana untuk kasih gambar itu, sekaligus  foto bareng mereka untuk pertama kalinya. Hari itu aku dibantu banget sama 2 temanku sampe akhirnya aku bisa kasih gambar dan foto bareng (tp ga sama semua personil, hiks), dan saking gugupnya (karena aku sebenarnya pemalu) tanganku dingin sampai kesemutan, hahaha. Tapi, aku seneng banget!

 

//

 

Terima kasih Dina Apriliani, cerita lama ya, sampai sekarang gambarmu masih terpasang di dinding dengan baik… Sudah punya foto bareng full-tim?

18 Th Swaragama: POP UP MARKET!

Swaragama POP UP MARKET! digelar hari Sabtu (17/3/2018), menginjak usia ke-18 tahun Radio Swaragama sebagai wujud rasa syukur manajemen PT. Radio Swara Gajah Mada menggelar acara syukuran tersebut di halaman parkir Swaragama, Bulaksumur, Yogyakarta.

Semoga menjadi radio yang mengutamakan kedekatan dengan komunitas lokal, dapat menjangkau generasi milenial (1990-2000) dan generasu Z (2000-saat ini) melalui berbagai multiplatform. Hidup Radio Yogyakarta! Sukses Jaya selalu !

 

 

Stage Story of Korekayu 2017

Stage Story of Korekayu 2017

[klik pic for view]

Beberapa Dokumentasi dari panggung ke panggung Korekayu sepanjang tahun 2017, Semua dokumentasi tersimpan dengan baik, salah satunya pada website ini, beberapa dokumentasi yang lain bisa di lihat di akun instagram @korekayu atau Youtube. Semoga lembar ini menjadi pengobat rindu.

Awal tahun baru 2017, setelah ritual libur natal dan tahun baru, Korekayu bermain bersama lagi, kali ini bersama band-band indie Jogja bertajuk “Indie Night” di salah satu Club di jalan Magelang, sebagai semangat baru, pemanasan di tahun yang baru, sempat juga mengisi di acara Pameran Tugas Akhir Mahasiswa-Mahasiswi Institut Seni (ISI) Yogyakarta. Pada bulan ke-2, Korekayu merilis mini album “Retrorika Metropolitan” secara Digital (Spotify, Joox, iTunes, Deezer, dll), sebelumnya mini album ini di rilis pada bulan yang sama tahun 2016 dengan paket bundling CD pack kayu dan merchandise, simak lengkapnya disini. Tujuan dari dirilisnya album digital adalah agar mini album “Retrorika Metropolitan” dapat dinikmati oleh khalayak luas, sehingga karya Korekayu dapat dinikmati dimana saja tanpa batas apapun19 FebruariKorekayu dipercaya (lagi) untuk memeriahkan sebuah hajatan pernikahan, selama ini sudah 3 acara pernikahan yang turut mengundang Korekayu untuk berbagi kebahagian. 24 Februari, Korekayu bermain bersama keluarga Sexen USD dalam acara rutin T.G.I.F, dibawah tangga kantin Realino, senang sekali bermain di gigs ini, serasa pulang kerumah.

Bulan Maret, diawali dengan recording live video di @RockstarStudio , Proyek Korekayu X Rockstar ini merekam live musik dan video lagu “Dibawah Tangga”, prosesnya sangat singkat, hasil pun memuaskan, simak videonya disini. Pada bulan yang sama, Korekayu sempat mengikuti audisi Radio Show TV One, hanya berhasil masuk 10 besar Yogyakarta saja. Pada bulan April, Mang Ito “Sungai” merangkul Korekayu untuk bermain di acara kolektifnya, Mengalir Senja #3 bersama Superpop, Terasiring, Illona, Answersheet dan SeekSixSick, 29 April Guest Star Dies Natalis Fakultas Ekonomi Sanata Dharma dan 30 April Guest Star Bulan Bahasa di Kampus Realino Sanata Dharma, bermain 3 hari berturut-turut yang menyebabkan beberapa dari kami tumbang. Bulan Mei, Korekayu bermain dengan kakak-kakak VOC dan Sungai, dalam acara sambut Asian Youth Day 2017 di Gereja Maguwoharjo, Sleman. Berlanjut pada pertengahan bulan Mei, mengisi acara Awarding Night di Kampus UIN Yogyakarta, sekaligus gigs penutup sebelum istirahat sejenak sebulan penuh.

Selama bulan puasa, Korekayu libur dari hingar bingar musik Jogja (sepi job) fokus untuk produksi single baru. Produksi single baru dilakukan di Interest Studio, selama 1 minggu sebelum produksi dimulai Korekayu  mengaransemen dan membuat lirik lagu di Studio, adalah mas Desta (@musikjogja) orang di balik layar yang mengusulkan serta memberi gambaran konsep single tersebut (FYI, Korekayu sempat ngobrol asik bersama mas desta @musikjogja, simak videonya disini). Proses produksi single Jemari Berpena terhitung cepat, setelah proses rekaman selesai dilanjutkan produksi video clipnya. Mixing dan mastering lagu “Jemari Berpena” dipercayakan kepada Billydinata (Interest Studio) sedang video dipercayakan kepada Nying-nying dan tim (lihat video Jemari Berpena). Sempat take video pada proyek Out Session EhlooTV, Korekayu membawakan tembang “Posesif” milik Naif dan “This Boy” milik The Beatles (lihat video disini dan disini). Giliran fokus pada launching single dan video klip Jemari Berpena, bertajuk mini showcase “Jemari Berpena” ini kami kerjakan sendiri, dibantu juga teman-teman Sexen dan Rockstar Studio. PR-nya, jauh-jauh hari Korekayu harus membuat gimmick tentang single baru sebelum dirilis. Munculah ide tantangan menulis surat tentang masa lalu yang ditujukan kepada teman-teman sekitar, memanfaatkan media sosial, yang mana semua surat yang masuk di-upload di akun instagram @korekayu.

Juli, Ada kabar baik dan buruk, tepat 2 minggu sebelum showcase berlangsung, Bondan Jiwandana (Gitar-Vokal) mengalami kecelakan saat perjalanan menuju Magelang, kaki kirinya patah, sehingga mengharuskan Bondan untuk berisitirahat beberapa hari dan menggunakan tongkat “kruk” untuk membantunya berjalan, hingga showcase di gelar. Kabar baiknya, Beringin Soekarno Sanata Dharma saksi biksu sekaligus tempat bersejarah bagi Korekayu, untuk pertama kalinya menggelar showcase tunggal peluncuran single dan klip terbaru bertajuk mini Showcase Jemari Berpena dengan sukses, dan pertama kalinya juga Korekayu bermain secara lengkap pasca Enan “Bleki” (keyboard) menjalani rehabilitas di Jakarta sejak  pertengahan 2016, simak lengkapnya disini. Setelah sukses menggelar showcase, Korekayu gencar melakukan promo single dan video klip , menjajah media online, media cetak, radio maupun promo di setiap gigs. 20 Juli, Halal Bihalal bersama Komunitas Beatles Jogja, kali ini tidak membawakan lagu dari Korekayu, 4 lagu hits dari The Beatles. Kemudian pada tanggal 25 kami bermain di Road to Soundrenaline 2017, 28 Juli Liquid Bar & Kitchen dan 29 Juli Road to Soundrenaline Day 3, 3 gigs ini kesempatan baik untuk mempromosikan single baru yang masih hangat.

Awal Agustus, Pertama kalinya Korekayu bermain di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY 2017) dan rangkaian acara Malioboro Night Festival, pertengahan bulan kembali bermain di gigs brand sebuah rokok, bersama Bottle Smoker, Last Elise, Sungai, Jason Ranti dan Mondo Gascaro, lanjut “Island in The Sun” rooftop Galeria Mall, Yogyakarta. Gigs Agustus berakhir di acara launching Music Corner LOOP Station.

Sabtu, dimana anak muda seumuran kami  mungkin sudah merencanakan dengan kekasih hati untuk berkencan sekedar jalan-jalan keliling kota atau menikmati film layar tancap, tidak dengan Korekayu, di bulan September berkencan gigs, Land of Leisures Market, yang diselenggarakan 3 hari di rooftop Ambarrukmo Plaza Yogyakarta, Korekayu berkesempatan bermain pada hari Ke-2 membuka Hi-Vi dan sempat berkolaborasi dengan Olski, sebelumnya konsep kolaborasi ini sudah ada pada mini showcase Jemari Berpena (lihat video disini) dimana Olski turut memeriahkan showcase serta collab bersama Korekayu. Kabar bahagia datang dari Radio Geronimo FM, dimana single Jemari Berpena menjadi jawara chart pada program musik indie, yang sebelumnya pada bulan Agustus, single tersebut hanya bertengger pada posisi chart 2 atau 3 setiap minggunya, Jemari Berpena menjadi jawara chart juga dikabarkan oleh radio Cassanova Bali, sebuah pencapaian luar biasa bagi Korekayu. Berlanjut sabtu minggu kedua, Korekayu menuju utara kota Yogyakarta, gigs kecil-kecilan bersama Sexen USD di Kaliurang, ditutup dengan “pesta air” bersama teman-teman anggota baru Sexen hingga “Sexen Purna Tugas”. Sabtu ke-3, Korekayu bertamasya ke selatan Yogyakarta, kali ini memeriahkan pensi SMA 2 Wonosari bersama Dialog Dini Hari, disambut hangat dan positif di alun-alun kota Wonosari, senang, semoga lain kali  bisa bermain lagi disana. Di akhir bulan, kabar kurang baik kembali datang, kali ini Alvin mengalami kecelakaan, kakinya sedikit cedera dan sempat terbesit untuk menggunakan additional player drum untuk merampungkan 2 gigs terakhir bulan September, tapi beruntungnya 2 gigs terkahir, “Malam Ekspresi PBSI USD” dan “Art of Technology-TI USD” bersama Senar Senja terlewati tanpa pemain pengganti.

Oktober dan November, Gigs bersama teman-teman komunitas pecinta The Beatles Jogja, 14 Oktober tribute to The Beatles “Tone Of Norwegian Wood” dan 4 November syukuran ulang tahun ke-15 komunitas The Beatles, di gelar di halaman Kantor Harian Keadulatan Rakyat. 10 November, membuka Endah n Rhesa bersama Orkes Humor Bardi dalam pensi Goal Fest mahasiswa Bimbingan Konseling Sanata Dharma, 18 November, Charity Concert Magic – O, Radio Masdha FM bersama Evalin, Chord 7, Olski, Jono Terbakar dan Illona ATSP.

Bulan Desember, Korekayu kembali melempar karya ke platform music digital, giliran single “Jemari Berpena” sudah bisa dinikmati di iTunes, Spotify, Joox dan aplikasi musik digital lainnya, Korekayu ingin semua portal online Youtube, Souncloud, aplikasi musik ataupun media sosial menjadi wadah berkarya yang baik. Gigs, Pada tanggal 9 kemarin Korekayu bermain di acara Lucky Tribe Music Festival bersama Skandal, Summerchild, Sungai dan di tutup band rock nasional, Jamrud. Apa jadinya, Korekayu ber-genre pop oldies bermain tepat sebelum Jamrud? Band rock nasional dengan basis massa yang tidak sedikit dan loyal. Sempat panik, baru kali ini membuka band dengan aliran yang berbeda. Menyusun 12 lagu upbeat, dengan harapan penonton tidak bosan atau tidak ada lemparan botol. Bertambah panik ketika data soundcheck hilang sebelum acara dimulai dan waktu prepare dipanggung hanya 1 menit. Show must go on, akhirnya 7 lagu kami mainkan dengan baik, jammers ternyata baik hati, tetap sabar menunggu, meski hujan mengguyur stadion Kridosono.

28 Desembar, menurut jadwal Korekayu bermain di Merapi Park Fest, acara yang “katanya” akan di gelar setiap tahun dalam waktu 30 hari, dengan line up band-band indie Jogja, menarik sekali! Tapi sayang, kabar kurang baik tentang acara ini, Korekayu dan line up tersisa pada hari ke-3 hingga hari ke-30 batal tampil di Merapi Park Fest dikarenakan beberapa hal teknis di lapangan sehingga Merapi Park Fest harus dihentikan oleh pihak penyelenggara. 29 Desember, berbagi kebahagiaan pernikahan Westri dan Christ, di Rumah Budaya Tembi, Bantul, Yogyakarta. 30 Desember, jamming bersama Beatles Mania soft launching Warung Salira, Condong catur.

Mungkin sekian dulu saja cerita perjalanan serta pencapaian dan pengalaman baru Korekayu selama tahun 2017, semoga ditahun yang baru ini apa yang menjadi cita-cita Korekayu (Full Album) bisa terwujud, terima kasih teman-teman yang mengapresiasi pun yang terlibat proses Korekayu di tahun 2017, sampai bertemu lagi di gigs terdekat atau kesempatan yang lain. Selamat tahun baru 2018! Sukses untuk kalian semua. See you :*

 

Peluk nan erat,

KOREKAYU

 

Photograph: Ammir, Gabra Mikael, Bayu Ata, Cosmas Dipta, Tata Tiong & Korekayu

Out Session “This Boy”

Out Session “This Boy”

Out Session kali ini bersama tim Ehloo TV di Red Corner Cafe Jl. Lowanu, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Korekayu membawakan tembang milik yang mulia “The Beatles” yang berjudul “This Boy” selamat menyaksikan, jangan lupa subscribe & share.

Record Sound : Interest Record  https://instagram.com/intereststudio

Website: http://ehloo.com/ Like us on Facebook: https://www.facebook.com/ehloocom Follow us on Twitter: https://www.twitter.com/ehloocom Follow us on Instagram: https://instagram.com/ehloocom