Showcase “syukuran”  Jemari Berpena

Showcase “syukuran” Jemari Berpena

Sebuah meja berukuran sedang jadi pemandangan pertama penonton mini konser “Jemari Berpena” Korekayu di Beringin Kantin Sanata Dharma Jogja, Sabtu (15/8) malam. Di atas meja yang dipasang tak jauh dari gerbang masuk dipajang puluhan surat bertulis tangan yang ditulis Raden Soeprapto, kakek additional gitar Korekayu, Lukas puluhan tahun lalu. Ada juga koleksi perangko luar negeri dan dua buah mesin ketik tempo doloe.

 

Di samping meja Korekayu juga menaruh sepeda onthel dan satu buah lampu jalan tempo doloe. Simbolis sepeda itu yang digunakan Raden Soeprapto mengirimkan surat yang ditulisnya untuk teman-temannya di luar negeri ke kantor pos. Surat-surat yang ditulis dalam rentang waktu 1955-1968 itu menarik perhatian mereka yang datang. Hampir tiap penikmat musik malam itu berfoto bersama meja, mesin ketik, dan sepeda onthe Raden Soeprapto.

 

Instalasi itu memberi isyarat tentang judul lagu baru beserta video klip yang malam kemarin turut diluncurkan. Ada yang menebak judul lagu baru itu “Surat Cinta”, “Kakek”. “Kisah Kakek”, dan lain-lain. Padahal di meja yang penuh surat itu Korekayu sudah memberitahu jawaban tentang lagu baru. Bahkan dua pekan sebelum mini konser dimulai, mereka sudah menyelipkan judul lagu baru yang bikin banyak orang penasaran.

 

Ada sensasi ketika melihat tata panggung mini konser yang memang tepat di bawah Pohon Beringin yang cukup tua di area kampus II Sanata Dharma itu. Dua set alat disusun dengan pencahayaan lembut mampu menyimpan kesan angker yang selalu hadir di Pohon Beringin. Kesan angker juga kian lenyap ketika Olski band pop menggemaskan Jogja membuka mini konser. Meski tanpa gitaris Dicky Mahardika yang tengah menunaikan ibadah Folk di Malang, Dea (vokal) dan Sobeh (pianika) tampil maksimal.

 

Bersama Faiz Laditya, bassist additional Olski yang kemarin malam didapuk bermain gitar, Hanif penggebuk drum band Jazz Boarding Room, dan pembetot bass Gilang (By The Way, Remember), mereka sukses mengantar penonton bersenang-senang di halaman beringin. Mereka juga berduet dengan Korekayu membawakan tembang hits “Datang Bulan” yang lalu menyerahkan panggung pada Korekayu.

IMG_6576

 

Ratusan penonton mini konser langsung merapat ke depan set, begitu Bondan (vokal, gitar), Alfons (guitalele, vokal), Alvin (Drum), Bagas (Bass), Yustinus Blacky (kibor), Lukas (add. gitar) dan Elgar (add. kibor) mulai berdiri di set masing-masing. Seperti biasanya, teriakkan penonton perempuan selalu terdengar ketika Alvin duduk di belakang drum. Musisi ganteng ini memang kerap membuat penonton perempuan, bahkan laki-laki langsung lumer. Apalagi penampilannya malam itu sangat parlente.

 

Korekayu tampil full tim. Mereka tidak mau meninggalkan para personel yang membantu perjalanan mereka selama ini. Blacky, kibordis yang terpaksa meninggalkan band sementara lantaran kesibukan berbagi suara dengan Elgar, additional Korekayu selama ini. Lalu Bondan malam itu harus rela tak bisa pecicilan seperti biasanya karena kakinya di-gips setelah motornya mencium kerasnya body mobil, sepekan sebelum mini konser.

 

Mereka memanjakan telinga penonton dengan “Jingga Senja dan Lalu Lalang Manusia” sebagai nomor pembuka dilanjutkan “Seorang Anak Lelaki” sebelum mereka menyapa penonton yang datang dengan candaan segar khas Jogja yang selalu sukses bikin ngakak.

 

“Halo teman-teman. Ketemu lagi kita di Sanata Dharma. Kampus kami, swasta yang mahal sekarang. Gunungkidul mana Gunungkidul. Yaah Gunungkidul hadir. Jadi gini, saya terpaksa duduk karena kemarin habis cium Panther tahun 97. Lumayan juga cium Panther tahun 97, mobilnya masih keras daripada Avanza empuk,” kata Bondan lalu disambut pisuhan mesra penonton yang hadir.

IMG_6306

 

Sebelum membawakan “Sari”. mereka lebih dulu menceritakan tentang kisah di balik lagu itu. “Sari” sebenarnya lagu sindiran untuk teman mereka yang berinisal Y–meski akhirnya disebut juga namanya: Yoga– yang tidak berani mengungkapkan perasaan ke teman mereka yang bernama Sari saat masa kuliah dulu. Kisah ini lagi-lagi direspon pisuhan yang membuat malam makin menyenangkan. Di Jogja seperti yang kita tahu, pisuhan adalah tanda kemesraan. Jangan salah paham.

 

Usai Sari, mereka membayar rasa penasaran penonton yang sejak awal menebak-nebak apa judul lagu baru mereka. Alfon mengarahkan pandangan mata penonton ke sebuah layar ukuran sedang–yang mereka bilang layar tancap– ke sebelah barat panggung. Korekayu memamerkan video klip sekaligus lagu terbaru yang mereka beri judul “Jemari Berpena”. Bisik-bisik penonton pun membesar.

 

“Oalaaahhh…. Jemari Berpena tho. Kirain Jemari Berpena itu tema konsernya. A*u tenan, apik. Ketipu aku, hahahah…” komentar seorang penonton.

jember2

Raden Soeprapto sendiri jadi sosok dalam video klip itu. Ia membuka kotak berisi surat dari para sahabat penanya di luar negeri yang dipamerkan di atas meja usai pagar masuk. Ada juga surat-surat cinta dari istrinya. Kakek Lukas natural dalam video klip. Sesekali matanya memerah, barangkali ingat kisah-kisah sedih atau yang tengah dipendamnya dalam surat yang tulisannya menggunakan bahasa Esperanto.

 

Bahasa Esperanto sendiri dianggap sebagai bahasa artifisial yang digunakan dalam surat menyurat penduduk dunia sejak 100 tahun lalu. Dalam perkembangannya, bahasa ini pernah dituduh sebagai bahasa kaum komunis lantaran tenar di daerah Eropa Timur dan Baltik.

 

Korekayu langsung memainkan nomor baru itu usai pemutaran video klip. Berdurasi 3 menit, lagu ini berpotensi meledak. Riff gitar nyaman yang gampang digumamkan jadi pembuka yang cukup tepat. Pemilihan nada yang familiar dan lirik laiknya bahasa surat tulis tempo doloe membuat lagu ini tidak hanya kuat namun bakal langsung nyangkut di telinga pendengar. Sehingga tak heran ketika konser berakhir, para penonton ada yang menggumam “Jemari Berpena” berulang kali.

 

“Mini konsernya asyik banget. Lagu Korekayu ini asik, gampang dicerna, dan berlirik kuat. Untuk Korekayu, tetap berkarya sampai 15 tahun ke depan ya. Asyik,” puji gitaris Laquena sekaligus owner Gonsells Studio, Garrry Mailangkay yang turut menyaksikan mini konser itu.

 

Mini konser Korekayu kali ini berkonsep rapi dan mampu menggali memori para penonton terhadap nasihat juga pelukan hangat kakek dan nenek mereka. Pun mereka yang pernah mengalami masa indah menulis atau menerima surat dari orang terkasih. Lagu baru mereka ini bersama lima lagu dalam mini album “Retrorika Metropolitan” juga jadi penanda bahwa band yang dibesarkan di bawah tangga kantin Sanata Dharma ini adalah calon band pop pencetak hits. Tidak heran bila suatu hari nanti, Korekayu menjadi jawaban dari pertanyaan setelah Sheila On7, siapa lagi yang bisa menghasilkan lagu mengabadi yang bisa dinikmati tiap generasi. (DESTA WASESA)

IMG_6649

JEMARI BERPENA

JEMARI BERPENA

Korekayu melepas single sekaligus clip video terbaru pada tanggal 15 Juli 2017. Single yang diberi judul “Jemari Berpena” di rilis mandiri bertajuk ‘Mini Showcase Jemari Berpena’ bertempat di Beringin Soekarno Kampus 2 Unversitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam Showcase tersebut Korekayu  membawakan lagu-lagu hits dari album “Retrorika Metropolitan” dilanjutkan pemutaran clip video Jemari Berpena dan ditutup dengan single terbaru yang dibawakan secara live untuk pertama kalinya. Single Jemari Berpena dilempar ke media sosial Youtube dan Soundcloud setelah showcase berlangsung, terdistribusi juga secara digital agar dapat dinikmati secara luas melalui platform musik digital.

Lagu Jemari Berpena di tulis oleh Bondan Jiwandana, bercerita tentang dua orang muda-mudi yang gemar menulis surat untuk sekedar melepas sepi dan rindu. Sebelumnya Korekayu sempat membuat tantangan menulis surat kepada followers-nya dan beberapa tulisan surat itu diunggah via akun Instagram @korekayu. Melalui lagu Jemari Berpena, Korekayu ingin mengajak khalayak ramai untuk kembali bernostalgia, merasakan kembali tantangan menulis surat, karena berkirim surat adalah metode penyampaian pesan yang unik, menarik, dan tentunya meninggalkan kesan yang dalam. Dibubuhkannya tinta lewat pena dan berakhir dalam secarik kertas mempunyai daya tarik tersendiri.

Proses produksi single Jemari Berpena berlangsung cepat, pertengahan Mei 2017 memasuki Bulan Ramadhan di Interest Studio Yogyakarta, setelah proses rekaman selesai dilanjutkan produksi untuk clip video, proses mixing dan mastering lagu Jemari Berpena dipercayakan kepada Billydinata (Interest Studio).

 

Artwork Jemari Berpena digarap oleh Christian “Kicos” Nugroho. Proyek artwork Jemari Berpena merupakan bagian dari ilustrasi lirik, menggambarkan tangan yang sedang menulis surat. Artwork ini dimuat dalam official merchandise Korekayu.

5 Tahun Korekayu

5 Tahun Korekayu

Pada hari ini, Jumat (2/6/2017), Korekayu genap setengah dekade bermain bersama. 5 tahun yang lalu, di bawah tangga area kantin Realino, tempat nongkrong kami bersama teman-teman UKM Sexen dan komunitas lain, saat itu bertemu untuk melatih materi yang akan dibawakan pada pentas pertama di hari yang sama.

Bisa dibilang band kemarin sore, dari pentas satu ke pentas yang lain, mendapat respon yang positif, mencoba membuat karya sendiri (lagu Dibawah Tangga) pada tahun 2013, memutuskan untuk serius selangkah lebih maju, mencoba menelurkan mini album pada tahun 2016 dengan dua single andalan yaitu “Jingga Senja dan Lalu Lalang Manusia” dan “Dibawah Tangga”. Awal 2017, merilis mini album “Retrorika Metropolitan” versi digital yang bisa dinikmati secara streaming online iTunes, Spotify, JOOX dan platform digital musik lainnya.

Sempat bongkar pasang personel, posisi keyboard, Arnold Dwi Hutomo digantikan oleh Yustinus “Bleki” Cahyadi hingga menelurkan mini album, setahun ini bleki absen dari pentas korekayu, keyboard dibantu oleh Elgar dan Lukas Ingheneng (gitar 2) sampai sekarang.

Dari sekedar band proyek senang-senang yang membawakan karya dari idola kami, akhirnya melangkah sedikit lebih serius dengan membuat karya sendiri secara mandiri, terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah dan terus mensupport, semoga di tahun-tahun berikutnya korekayu dapat berkarya lebih baik, lebih kreatif, tercapai untuk album yang kedua (full album) dan rencana merilis sesuatu dalam waktu dekat ini berjalan lancar.

 

cheeeeeeers!

Surat untukmu…

Surat untukmu…

Menulis surat salah satu cara belajar menuangkan isi hati dan pikiran sebenar-benarnya dan sekuat-kuatnya. Dari surat yang ditulis atau diterima, kita belajar mengolah afeksi: bersuka cita atau menerima kekalahan.

Kapan terakhir kali menulis surat cinta untuk seseorang?

Tantangan untuk teman-teman, berani posting surat cinta terakhir? entah itu dari teman, sahabat atau orang yang terkasihi…
Upload di Instagram kalian tag instagram @korekayu_ dan @musikjogja disertai hastag #suratku #suratcinta #suratsahabat lalu ceritakan panjang lebar tentang pengalaman menulis atau mendapat surat itu, bisa via email korekayumusik@gmail.com akan ada hadiah t-shirt untukmu.

 

tshirtkorekayu

lks1

Korekayu Bikin Gerakkan Menulis

Korekayu Bikin Gerakkan Menulis

BAND Korekayu ternyata tidak hanya piawai dalam membuat musik. Bondan (gitar), Lukas (gitar), Alfon (gitar, vokal), Bagas (Bass), dan Alvin (Drum) sekarang lagi giat-giatnya membuat gerakkan menulis tangan. Kegiatan ini ternyata sudah berlangsung lama, tepatnya sejak akhir tahun 2016 kemarin. Menulis, bagi Korekayu adalah aktivitas setiap hari dan bentuk dukungan pada budaya literasi.

“Sekarang kan zaman digital dan orang nulis rata-rata sudah pakai laptop atau PC komputer. Sekarang seberapa banyak sih yang mau menulis tangan seperti zaman dulu, surat-suratan atau punya sahabat pena yang didapat dari surat menyurat. Begini cara kami mendukung budaya literasi,” kata Alfons.

Kampanye menulis surat atau tulis tangan mereka dengungkan di sejumlah platform media sosial. Khusus surat, Korekayu kembali mengajak netizen ke ruang kontemplasi dalam melalui surat yang ditulis tangan. Bondan mengatakan bahwa menulis surat apalagi surat cinta itu lebih susah daripada mengetiknya di laptop atau PC komputer.

“Sekarang bayangin saja, kalau menulis tangan di surat yang mau kita kirimkan ke orang, harus benar-benar bagus dan dipikir matang-matang biar rapi dan enggak banyak coretan. Beda kalau pakai laptop, bisa hapus sesukanya atau copy-paste. Terus menulis surat cinta kan pasti mencurahkan seluruh perasaan dan bisa bikin yang baca degdeg-an. Itulah serunya,” kata Bondan.

Saat ini gerakkan mereka mendapat banyak dukungan dari pegiat literasi. Else Liliani, pegiat sastra di UNY contohnya memuji bahwa gerakkan mereka yang mengajak netizen kembali menulis surat sangat jarang dilakukan di tengah mendigitalnya dunia. “Saya dukung gerakkan mereka untuk anak muda. Biar anak muda sekarang tidak kehilangan ruh menulisnya, yaitu lewat tangan dan bisa mengemukakan kejujuran dari sana,” beber Else.

Begitu juga dengan Dian Dwi Anisa, pegiat literasi di Indiebook Corner. Bagi Dian yang baru satu pekan ikut gerakkan ini sudah merasakan betul efek dari membuat surat dengan tulisan tangan. “Cobain aja sendiri. Pasti tahu kalau sulit banget rasanya. Lalu pada saat menerima surat balasan, rasanya penasaran gimana gitu sama isi dan bentuk tulisan tangan orang yang kita kirimin surat,” kata Dian.(Des)

 

KRJOGJA.com

22 Mei 2017